Jumat, 10 Oktober 2014

Berceracau

Pengen bilang apa ya?
Oh iya, gue lagi kepincut banget sama lagu-lagu Float.
Dulu, sebenernya gue udah tau band Float tapi belom seasik sekarang di kuping gue. Mungkin efek umur kali ya. Semakin dewasa, kuping gue adaptasi dan makin nyaman sama beberapa genre tertentu aja. Dulu gue tahu Float dari film 3 Hari untuk Selamanya.

Sekarang, isi playlist lagi kegandrung sama band yang kemaren baru aja bikin Float2Nature sebagai perayaan annivesary mereka di Lampung.

Kedua, akhir-akhir ini gue selalu nemu buku bagus hasil ngoprek di Gramedia. Salah satunya, kumcer karya Djenar Maesa Ayu. Penulis yang sukses lewat Mereka Bilang Saya Monyet! ini berhasil menarik mata gue untuk membalik lembar demi lembarnya. Which ternyata, Djenar ini Floaters juga! hahaha..

Banyak yang bilang karya Djenar itu dangkal (as what I read on goodreads review), tapi menurut gue, cara bertuturnya yang blak-blakan, verbally dan mengangkat konsep tentang Perempuan, Seks, Human Trafficking, lumayan bikin gue betah bacanya. Atau ini cuma masalah selera baca? Hahah. Tapi sayang, plot cerita Djenar cukup mudah ditebak. Seperti kita udah dikasi panduan dalam game buat setiap quest nya. But  I salute her witty style and simple-attractive words even in monoton plot.

Well, selamat malam dan jangan lupa sikat gigi,




Nyoron

Hujan Bulan Desember

Gue engga tau udah berapa kali di blog ini bilang bahwa;
"Hey! It just two months left before year end"

Waktu tuh bener-bener misterius dan interkonsepsi.
Gue masih terkaget-kaget kalau sekarang udah bulan ke sepuluh dari duabelas bulan yang harus ditempuh dalam setahun. Perasaan, baru aja kemaren gue nulis hal yang sama dalam kondisi hati galau menye-menye terus ngga lama ngepost soal tahun baruan di rumah Ami dilanjut dengan bakar-bakar ayam sambil nunggu kembang api.

Resolusi tahun ini, unexpected! Ngga nyangka aja 70% yang penting udah terpenuhi semua. Alhamdulillah. Ternyata memang cara terbaik untuk bikin resolusi itu niat -> ditulis -> ditanamkan ke diri sendiri setiap hari.

I think, what I learn from this year is; It's no matter how long you lives, It's no matter how many times you've been here and there, but about how much we mean to live fully.

And, (cepat) selamat datang bulan desember. Bulan favorit gue. Musim hujan favorit gue. Bau tanah basah habis hujan, jalan becek, air netes dari pohon!


Good night,


Nyoron

Pulang

Aku rindu rumah
Perasaan yang menggangu setiap saat ku tatap jalanan di Harleemstraat yang ramai.
Perasaan yang menggeltik kala aku menyusuri Kernstraat 17a, Leiden.
Sesak yang menghimpit bila berpapasan dengan kakek-nenek seusia kalian di sekitar Universiteeit Bibliotheek.

Sejauh apapun, hangatnya bumi akan selalu berbeda.
Pabila, kita berbeda benua,
Tak satu tabula rasa.

Kelingking telah dilingkarkan sebelum kaki menjejak bandar udara.
Bahwa tahun esok kita kembali tatap muka.
Lalu tidak akan saling berkata,
"Sampai jumpa!"


Float - Pulang dan secangkir teh manis
Jakarta, 10 Oktober 2014

Kamis, 02 Oktober 2014

Resah


Aku merasa keresahanku hilang.

Aku menyesap mocha hangat yang terhidang di sisi kanan laptop. Uap hangat menguar dan menyisakan titik-titik embun di pinggir cangkir. Pagi mulai bergerak pergi dan berganti terik.  Layar laptop masih membentangkan layer kosong dengan pointer panda yang terus berkedip, menunggu di otak-atik. Sesekali mataku menatap layar handphone, menunggu satu pesan masuk namun bukan dari bos. Tidak kunjung datang. Aku menghela nafas, meluapkan kedataran yang sedari tadi mengawang-awang.

Aku merasa keresahanku hilang.

Dulu, entah kapan dunia awang itu nyata, aku terbiasa liar. Imajinasi dan emosiku berdebur bagai ombak di lautan lepas menunggu pecah bersurai di pantai. Diriku yang dahulu dengan mudah membangun awan-awan imajinasi yang tidak terbatas dan terombang-ambing mengikuti arusnya. Itu dulu, sebelum terlalu jauh relaita dan tatanan hidup serta moral tahik menyeretku terlalu dalam. Bara api di dadaku kini tinggal menunggu menjadi abu dan meresap di tungku.

“Kamu kan bisa kerja kantoran aja, nak. Kerja asal ada ijazah.”
“Tapi aku mau jadi seniman matang. Lingkungan yang mendukung.”

Dua hari lalu.

“Kamu kalau besar mau jadi apa aja bisa. Dokter, astronot, ilmuwan.”
“Tapi aku nggak suka eksakta.”
“Tapi Hayomi bisa kaya dan punya banyak uang.”

Tujuh belas tahun lalu. Umur tujuh.

Aku merasa keresahanku hilang.

Seniman tidak seharusnya terbawa realita. Kita terbiasa terjaga di alam nirwana. Alam dimana suwung merajalela dan membuat kita lupa. Hal yang tersulit terjadi sekarang adalah, terlalu banyak karbitan. Terlalu banyak hasil “seni” omong kosong yang berasal dari dunia nyata. Seni basi, seperti kata guruku.

Aku sendiri terlalu dini mengklaim diri sebagai seniman sejati. Apalah aku. Aku hanya suka menggambar, titik. Aku suka membuat apa yang tidak terucap tergores melalui pensil, cat, tinta di atas kertas.
Hhhh....

Aku menghela nafas. Mencoba menghimpun keresahan yang harus aku punya. Keresahan akan membawaku gila, lupa dunia, lalu masuk alam maya. Keresahan akan membuat tanganku bergerak maju dan menggores tanpa ampun, bagai seorang samurai yang sedang menghabisi lawannya.

Karena aku butuh keresahan itu. Kekritisan akan hal-hal polos yang sesungguhnya menunggu dimaki, di anjing-anjingkan, dipiaskan. Kekritisan yang aku metaforakan bagai melihat perempuan telanjang tetapi menyimpan sejuta sifat jalang.

Karena sekarang, saat logika menghempaskan dunia fana, sungguh aku merasa kesepian. Aku butuh keresahan itu yang akan membuatku terlihat kesepian tapi teramat gaduh di dalam. Duniaku terlalu ramai untuk kau sesaki dan mengerti.

Mampus kau! Dikoyak-koyak sepi

Sekolah, mocha hangat, dan Chairil Anwar
Jakarta, 30 September 2014

Nagya dan Panji


Aku menghisap rokok menthol di selipan jariku sambil mengamati deretan rak buku berisi tetek bengek sastra dan filsafat. Mataku menyipit mencoba mencerna nama pengarangnya satu persatu. Nietzche, Sartre, Coelho, Murakami, Mishima, serta beberapa nama Indonesia, Seno Gumira, Ayu Utami, Djaenar Maesa Ayu, Hamka, Amoedya Noer, berderet rapi di sela-sela papan kayu mahoni yang dipelitur dan berbentuk persegi panjang. Satu kotaknya mampu menampung hingga sepuluh buku yang tebalnya dipercaya untuk menimpuk maling.

“Hey! Lihat apa?”

Seseorang mengetuk puncak kepalaku. Aku meringis sebal sambil bersiap menarik hisapan berikutnya.

“Apa sih yang kamu lihat dari sekumpulan buku berlabel sastra ini?”

Mataku memicing mencoba mencerna maksud perkataan Panji. Si pria berjanggut halus ini masih menatapku teduh, tidak selaras denganku yang terlihat seperti musuhnya.

Aku menggeleng.

“Engga ada. Namanya aja udah bikin bosen.”

Panji menarik sebatang rokok dari sakunya. Memantik api yang menyala setelah zippo dibuka lalu meresapi hisapan pertama. Aku mengalihkan diri dari matanya.

“Aku melihat kamu seperti sastra, Nagya. Enam tahun lalu, saat kita masih ingat cara bersenang-senang tanpa peduli setan. Kamu dua satu, aku dua lima,” aku menyimak tenang. Mencoba membiarkan dia kembali menceritakan awal kisah kami.

“Aku tidak mau disamakan seperti kertas-kertas itu. Kertas berisi fiksi maupun hipotesa yang bahasanya njelimet dan bikin mumet.”

Kami tidak sengaja menghembuskan asap bersamaan. Semilir angin dari pintu geser kaca yang terbuka lebar di samping kami masuk tanpa permisi lalu menerbangkan asap-asap membumbung pergi.

“Seperti itulah kamu. Tidak dulu, tidak sekarang. Mungkin bagimu, sastra membosankan, tidak mempesona, sebuah tradisi estafet dari masa ke masa yang membuat manusia fakir imajinasi bosan mem—“

“Tunggu!” Panji agak kaget.

“Kamu bilang aku fakir imajinasi?!”

Panji menghembuskan nafas gemas, “Nagya! Jangan baru baca prolog udah membuat konsklusi!” Panji kembali menjitak kepalaku. Aku tersenyum dalam hati.

“Tapi, sastra itu menggairahkan. Dia merangsang otakmu untuk berpikir. Nih, aku kasih contoh salah satu karya dari Haruki Murakami. Pernah kamu berpikir untuk hidup seperti lingkungan di Norwegian Wood? Menjadi sosok hilang arah, mati rasa, main-main sama birahi dan akhirnya kamu sadar kamu hilang kontrol?”

“Aku sudah pernah sih. Well, tapi ngga main sama banyak lelaki.”

“Aku ngasih contoh paling cetek dari Murakami dan deket sama kepribadianmu loh,” Panji tersenyum jahil.

Huh! Ingin aku sundut lengan pria ini.

“Judul Norwegian Wood juga tidak asing karena inspirasinya datang dari lagu The Beatles dengan judul yang sama toh. Pernah dengar, kan?” Aku mengangguk. Siapa yang tidak kenal band asal Liverpool itu coba.

“Sastra itu tidak hanya jutaan deret tulisan. Setiap muatannya mengandung beberapa faktor ekstrinsik maupun intrinsik yang membuat imajinasi kita bermain dengan representasi yang berbeda. Kebudayaan yang beda di tiap novel saja bisa membuat kita menerjemahkan cerita dengan berbeda-beda loh.”

Aku masih setia menunggu Panji melanjutkan.

“Enam tahun lalu, saat aku melihat kamu datang ke studio tato Arsyo, aku melihatmu seperti sastra. Mungkin orang-orang menerjemahkanmu sebagai perempuan nakal dan kurang terdidik sehingga membuat tato tapi tampangnya polos.”

“Apalagi saat itu aku dengan tololnya bertanya; “di tato sakit ngga sih?”

Panji tertawa, aku juga.

“Itulah, karena aku melihatmu sebagai sastra, aku menerjemahkan kepribadianmu sebagai sosok yang menarik. Kamu datang dari keluarga darah biru, budaya yang luhur dan tutur, tapi kelakuanmu ngelantur. Disitulah aku jatuh cinta kepadamu. Kamu berani mencari tahu apa yang kamu inginkan. Kamu membuatku ingin terus membalik setiap lembar harimu tanpa peduli kapan tulisan tamat terbentang. Aku ingin menjadi salah satu tokoh yang menghiasi stensilan hidupmu dari bab tengah hingga akhir kata.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya.

“Coba bayangkan Nagya, seandainya sastra tidak ada. Tidak ada cerita tentang Romeo dan Juliet. Tidak ada pembahasan soal eksistensialisme. Tidak ada gagasan-gagasan politik kiri ala Karl Max. Peradaban ini, dibangun oleh setiap tinta mereka. Kita percaya mereka ada, dengan beredarnya karya mereka dimana-mana.”

Aku menanggapi metaforanya, “oh, jadi kamu mau bilang aku adalah sang sastra, yang ada karena hidupnya terukir dan menjukkan sebuah keeksisan.”

Got it.”

Panji merangkul bahuku dan menggesernya agar bersandar di dadanya yang bidang. Wangi parfum Hugo Boss menyeruak ke dalam indera penciumanku.

“Aku beruntung menikah dengan pria sepertimu.”

“Kenapa? Kau bilang pembaca sastra membosankan?”

“Setidaknya aku punya hari untuk berdebat secara cerdas dan sedikit intelek. Kamu juga mau meladeniku yang sok tahu.”

“Karena aku sudah bilang, aku ingin ikut berperan hingga bukumu tamat.”

“Meski kita tidak bisa mempunyai anak yang mampu mengikuti alur debatmu?”

Ja, natuurlijk!

Aku tersenyum, mematikan habis sumbu rokok yang masih menyala.


Lab sekolah,  laptop, dan secarik kertas
Jakarta, 2 Oktober 2014

Shinta Tidak Sempurna


Shinta mengerjapkan matanya. Debu-debu masih hinggap di dinding dan teralis besi yang memisahkan raga dari dunia luar. Dia menghela nafas pesimis sekaligus penuh kebencian selagi matanya melihat kosong ke ventilasi udara yang berada tiga meter di atasnya. Sinar matahari hanya mampu menyelinap dari celah sempit tersebut.

Kebebasan.

Sudah lama Shinta lupa rasanya berlari bebas diantara semak belukar dan rerumputan hijau. Sudah lama dia lupa sensasi dingin saat embun menyerap ke telapak kakinya. Semakin lupa pula ia dengan rasa meletup-letup yang muncul tatkala Rama diam-diam menerjang dari balik pohon dan menggelitiki pinggangnya lalu membiarkan dirinya terjatuh sambil memohon ampun yang dilanjutkan dengan ciuman lembut mereka sebagai penutup.

Shinta menyeka air mata yang menitik tanpa permisi. Suara derap langkah berat dan tergesa terdengar menggaung di kurungannya. Dia memasang ekspresi dingin saat grendel kunci diputar. Shinta bisa melihat seorang prajurit berbadan kekar melalui celah-celah rambutnya yang sudah berantakan sisa penyiksaan semalam.

“Bangun!”

Tubuh Shinta ditarik secara kasar. Dia melangkah pasrah mengikuti langkah prajurit tersebut. Shinta tahu kemana dia akan dibawa pagi ini.  Seperti hari-hari sebelumnya, Shinta memasuki ruangan yang besar nan terang. Permadani dengan bulu harimau terbentang di depan kasur berwarna putih bersih. Harum pekat melati memenuhi udara di ruangan tersebut. Sebenarnya, ruangan ini tidak tampak bagai ruang penyiksaan seperti fakta yang ada dibaliknya. Tapi, bagi Shinta, dimanapun tanpa Rama adalah tempat menyiksa. Terlebih ini adalah kamar Rahwana.

Si Tua Bangka itu sedang diboreh dengan minyak zaitun oleh pelayan-pelayannya sembari menyuap beberapa potong pisang. Perut buncitnya bergerak naik turun saat salah satu pelayan mengusap perutnya dengan minyak sehingga terlihat mengilap.

Saat melihat Shinta sudah berdiri terasing di ruangan tersebut, Rahwana bangkit dari duduknya. Shinta menatap dengan lirikan waspada pada setiap langkah Rahwana yang coba mendekatinya layaknya harimau melihat kancil lemah tak berdaya.

“Shinta.... Shinta.....,” Rahwana mengangkat dagu Shinta agar tatapannya yang nyalang murka terlihat lebih jelas.

“Sekusut ini saja masih tetap terlihat menggairahkan.”

Shinta mendesis jijik saat deru napas Rahwana menyentuh lehernya, menyapu setiap lekuk disana dengan lidahnya. Para pelayan berdiri terpaku seakan hal itu sudah menjadi beban pekerjaan mereka. Kelu lidah mereka menyaksikan pelecahan tersebut.

Tangan Rahwana mencengkram bahu Shinta hingga menyebabkan bekas kemerahan yang tercetak jelas di kulitnya yang putih. Kepala Rahwana mulai turun mendekati payudara Shinta yang ranum. Semakin memuncak kebencian Shinta hingga akhirnya dia melayangkan kepalan tinjunya ke kepala pemimpin Alengka tersebut. Sedikit terhuyung Rahwana dibuatnya. Saat Rahwana hendak berbalik, Shinta meludahinya.

Rahwana dengan bengis menarik rambut Shinta hingga pekikan kecil keluar dari bibirnya yang kering. Ditamparnya wajah mulus itu sekuat tenaga.

“Bajingan! Dasar perempuan jalang!”

Kepala Shinta terkulai diantara jeratan tangan Rahwana. Darah menetes di atas permadani bulu harimau sehingga meninggalkan jejak merah. Bibir Shinta sobek dan pipinya membiru. Diantara sisa-sisa kesadarannya, Shinta membalas makian Rahwana.

“Kau lah yang bajingan Rahwana! Kembalikan aku pada Rama!”

“Bermimpilah kamu sampai mampus! Ramamu tidak akan pernah datang!” Rahwana mencekik pipi Shinta.

“Rama akan datang dan memporak-porandakan istana hina ini,” Shinta tertawa nyinyir meski bibirnya terasa perih.

Mata Rahwana mendelik marah. Cahaya di bulatan hitam itu sudah redup tertutup kebencian dan nafsu duniawi. Dihantamnya kepala Shinta dengan guci berisi arak yang ada berada di nampan dekatnya. Shinta terjatuh dengan kepala yang bercucuran darah. Bau arak yang tajam bercampur amis darah mengalir di pangkal hidungnya. Kesadarannya lamat-lamat menurun dan meninggalkan bayangan kabur tentang ruangan penyiksaan tersebut.

Shinta masih bisa merasakan tubuhnya diangkat dan dibanting ke kapuk yang empuk. Suara murka dan tawa bengis Rahwana menggema bagai halusinasi diantara sadar dan tak sadar. Shinta merasakan kebaya sutra bermotif batik parang rusaknya disobek. Hatinya menjerit tetapi sekuat tenaga dia menahan isakan dan air matanya.

Tidak! Rahwana tidak boleh melihatnya menyerah.

Tangan Rahwana menjamah rakus paha, selangkangan, payudara, perut, dan vagina Shinta. Tubuh berlemak dan berkeringat itu menindihnya sambil mengarahkan kejantanananya yang kecil menuju liang kesurgaan Shinta. Shinta ingin menendang perutnya hingga isi dan kotorannya keluar, melumuri tubuh binal tersebut. Tapi terlambat, Shinta sudah tidak suci. Dia ternoda.

Jamahan itu semakin kasar dan menyebabkan lecet yang perih. Perih. Perih. Perih. Tapi bayangan Rama yang seakan datang dan menghajar Rahwana sampai tidak berbentuk menghangatkan hatinya. Dia kehilangan kesadaran.

Tanpa air mata, tanpa perlawanan.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

note : Gue mencoba membuat cerita dari perspektif maha kuasa. Mencoba membedah kembali riwayat Ramayana dari penelisikan yang berbeda :) itung-itung latihan nulis lagi.

Kamis, 11 September 2014

Hiking ke Papandayan bersama Bikin Jejak

step by step to heaven

Tanggal 5-7 September 2014 kemarin, gue memulai penanjakan perdana gue. Dalam arti, ini penanjakan yang well organized dan bukan sekedar jalan-jalan lucu tanpa bawa carrier kayak ke Gunung Bunder dan Salak II kemarin. Gue berangkat bersama 24 orang lainnya dalam rombongan yang dipandu Kak Abi, temen lama gue. Dia nge broadcast soal trip ini atas nama Bikin Jejak, komunitasnya, dua minggu sebelum hari H. It cost 280rb and I instantly found a way to collect thus money less than two weeks. Alhamdulillahnya sih, ada masukan uang dari menang lomba poster di 61 J

Jumat, 5 September 2014
Pulang sekolah, gue langsung packing karena jam 8 gue harus udah di terminal bis Kampung Rambutan. Checking all my personal stuffs, then went ahead to meeting point.

Sampe meeting point, hujan gede. Telat lah gue sampe lokasi dan ternyata bukan gue doang yang telat. Dari 25 orang, yang baru ngumpul cuma 3 orang yaitu Bang Ipo, Mas Sigit, sama sodaranya. Jam setengah 9 dan baru 4 orang, ini sih namanya ngaret bangettsss. Jadilah gue neduh sebentar sambil sebats. Sebats, dubats, tibats, lama lama abis dah. Satu persatu rombongan dateng dan kita ngumpul di jembatan penyebrangan sekalian neduh. Ternyata malam itu ada grup rombongan lain yang akan menuju ke Gunung Ciremai punya temen Kak Abi, Mang Deden.

Satu persatu berdatangan. Bang Qin, Bang Abi, Kak Privi, Kak Nadilla, Bang Dhanis, Kak Berlin, Kak Arif, Kak Arra, Diah dan Kenny, Kak Ros sama temennya, Rombongan Malang Mas Adhi, Kak Dimas dan Kak Iffa, dan lain lain... Abis makan malem sedikit, badan mulai anget, bibir udah ngepul lagi, rombongan udah siap kayaknya. Ternyata sisa satu orang terngaret, Kak Chakra. Setelah semua kumpul kita berdoa dan jalan deh.

Bis berangkat jam 12.05 dari terminal Kampung Rambutan. Harusnya sih gue ajak Virza (alumni SMK 40, anak murid Pak Bams) bareng, Cuma gak ketemu dan susah sinyal. Gue juga harus irit batere. Total perjalanan Jakarta – Garut malem itu 6 jam.


Sabtu, 6 September 2014

Jam 6.30 bis gue mendarat dengan selamat di Terminal Pasar Induk Garut. Cuaca gunung yang dingin langsung menyambut muka gue setelah semaleman pegel mampus tidur di bis. Heran gue sama yang bisa tidur di dalem bis. Sampe di terminal, kita dikasi kesempatan sarapan pagi, cuci muka, pipis, boker, update status di Path, telepon sanak saudara, dan sebagainya asal kita senang.

Jam 7 kita naik ke angkot yang di carter buat ngebawa kita ke atas sebelum di oper naik pick up. Perjalanannya sekitar 1 jam dan setelah itu kita pindah naik pick up. Pick up men! Semacam gue sapi potong aja lah. Di pick up gue akhirnya ngerasain bumpy bumpy ride yang cihuy sebelum sampe di pos pertama alias Camp David. Cek lagi perlengkapan, lanjut sebats, isi perut lagi, terus kita berdoa dan memulai pendakian!

Oiya, gunung Papandayan ini termasuk gunung yang enteng dan bagus buat pemula. Apalagi, lokasinya deket sama Jakarta. Dengan ketinggian 2665 mdpl, trek yang banyak “bonusan” bikin kita ngga bakal terkuras banget lah tenaganya, apalagi yang pemula. Tapi, berhubung gue punya riwayat asma, gak enak banget ketika udah sampe di ketinggian sekian yang bikin gue sesek nafas. Orang lain pas break helaan nafasnya gak selebay gue yang macem orang sekarat.

Sejam pertama pendakian kita bakal melewati bebatuan dan melihat Kawah Papandayan, kawah belerang yang kece abez.  Ternyata Papandayan ini bisa dikategorikan sebagai gunung berapi tidur. Selesai lewatin medan berbatu, kita sampai di Goberhut, warung gitu buat istirahat. Lanjut jalan lagi ngelewatin padang rumput kecil trus baru deh lewatin jalan sempit yang nanjaknya dahsyat banget. Gue istirahat ngga kehitung di trek ini. Cape banget.

Sampailah kita kemudian di Pos II. Setelah lapor, jajan baso ikan, lanjut naik lagi ke pemberhentian akhir sebagai tempat nge camp kita. Pondok Salada. Energi gue udah mau semaput banget pas nanjak ke Pondok Salada meski udah di doping make susu dan madu.

Finally, sampailah di Pondok Salada. Istirahat sebentar lalu tim panitia membangun tenda. Ada oleh-oleh kenangan dimana Kak Abi kehilangan satu tenda. Entah tendanya hilang dimana tapi ya intinya sore itu kita cuma ada enam tenda. Gue solat, sebats lagi (disini dosis sebats gue gak tanggung-tanggung. Dingin men!), trus tidur siang sebentar. Oya di tenda gue kebagian bobok sama Kak Sofyan dan cewenya Kak Diah. Awalnya Cuma tiduran capek eh ketiduran beneran. Bangun boci, udah ada Kak Ifa dan cewe lain yang nyiapin makanan. Pada goreng tempe, mi, dan banyaklah. Gue makan berdua Kak Arif.

Selesai solat Ashar dan pipis (ngantri pipisnya 30 menit men) kia jalan-jalan sore ke padang edelweiss deket camp. Foto-foto trus malemnya cari kayu bakar. Gue udah make baju 4 lapis termasuk jaket, sarung tangan, sama kaos kaki 3 lapis aja masih gak mempan ngelawan dingin. Ah, efek hati kopong juga nih keknya :p. #digampar


Minggu, 7 September 2014

Malem itu gue tidur cepet. Jam 8 udah tepar. Tidur ayam sih sebenernya. Dingin banget gilaaaaaaa. Suhunya sekitar 10 derajat kali. Udah make sleeping bag tetep gak mempan. Mana gue di tenda Cuma bertiga. Kak Kenny sama Diah pelukan, gue dapet sisaan doang #huft. Ternyata jam 10an anak anak pada main UNO dan masak. Boro-boro gue mikirin makan, keluar sleeping bag aja ogah. Sempet menggigil gue jam 2 pagi. Daaaaan, pas gue bangun jam 2 pagi, kondisi camp mulai tenang. Gak terlalu berisik. Langit baru keliatan cantiknya. Gue pipis trus balik bobo lucu. Sebelum bobo, mari minum minum dulu sedikit biar anget. Jangan kebanyakan, ntar kobam.

Di tenda, gue tidur ayam lagi. Berharap dapet imbas anget pelukan pasangan sebelah kanan gue. Jam 5 kurang dibangunin sama suaranya Kak Nadilla buat liat sunrise. Abis itu gedor-gedor tenda Kak Abi. Actually, kita udah telat buat liat sunrise. Tapi, berhubung kata Kak abi ke Hutan Mati Cuma 15 menit yaudin. Jalan-jalan kita jam 5.15 dan sampe Hutan Mati 5.30

Pemandangannya? Epic!!


Sunrise di Hutan Mati


my new family!

Turun dari Hutan Mati, sarapan sedikit dan ketemu angkatan orang-orang sleepyhead. Setelah itu kita siap-siap berangkat ke Tegal Alun, padang edelweiss yang ada di puncak. Jam delapan kita berangkat naik. Perjalanan ke Tegal Alun ini keparat banget serunya. Make acara kesasar, ngedaki batu-batu yang lumayan curam. Pokoknya epik deh. Kebayar semua rasa capek, kesasar, ngantuk, pegel pas ngedaki. Apalagi pas kesasar, kita jatuhnya menlintasi satu puncak. Hahaha.

Tegal Alun saatnya foto foto sampe puassssss!

Ceng-cengan, ketawa-tawa, foto-foto. Lengkap deh. Hepi banget gue.

Turun dari Tegal Alun, dihadapkan pada kenyataan kalau siang ini kita bakal back to hopeless city. Kita turun gunung jam 2 siang dan sampai terminal algi jam 5.30 sore. Bis berangkat jam 6 dan sampailah kita di terminal Kampung Rambutan lagi jam 12 malem! Heheh


Tegal Alun, the edelweiss field



my fav's shot!

tent's mate. Kak Sofyan dan Kak Diah







Till next trip ya, my new little family J
Cheers,

Nyoron