Kamis, 11 September 2014

Hiking ke Papandayan bersama Bikin Jejak

step by step to heaven

Tanggal 5-7 September 2014 kemarin, gue memulai penanjakan perdana gue. Dalam arti, ini penanjakan yang well organized dan bukan sekedar jalan-jalan lucu tanpa bawa carrier kayak ke Gunung Bunder dan Salak II kemarin. Gue berangkat bersama 24 orang lainnya dalam rombongan yang dipandu Kak Abi, temen lama gue. Dia nge broadcast soal trip ini atas nama Bikin Jejak, komunitasnya, dua minggu sebelum hari H. It cost 280rb and I instantly found a way to collect thus money less than two weeks. Alhamdulillahnya sih, ada masukan uang dari menang lomba poster di 61 J

Jumat, 5 September 2014
Pulang sekolah, gue langsung packing karena jam 8 gue harus udah di terminal bis Kampung Rambutan. Checking all my personal stuffs, then went ahead to meeting point.

Sampe meeting point, hujan gede. Telat lah gue sampe lokasi dan ternyata bukan gue doang yang telat. Dari 25 orang, yang baru ngumpul cuma 3 orang yaitu Bang Ipo, Mas Sigit, sama sodaranya. Jam setengah 9 dan baru 4 orang, ini sih namanya ngaret bangettsss. Jadilah gue neduh sebentar sambil sebats. Sebats, dubats, tibats, lama lama abis dah. Satu persatu rombongan dateng dan kita ngumpul di jembatan penyebrangan sekalian neduh. Ternyata malam itu ada grup rombongan lain yang akan menuju ke Gunung Ciremai punya temen Kak Abi, Mang Deden.

Satu persatu berdatangan. Bang Qin, Bang Abi, Kak Privi, Kak Nadilla, Bang Dhanis, Kak Berlin, Kak Arif, Kak Arra, Diah dan Kenny, Kak Ros sama temennya, Rombongan Malang Mas Adhi, Kak Dimas dan Kak Iffa, dan lain lain... Abis makan malem sedikit, badan mulai anget, bibir udah ngepul lagi, rombongan udah siap kayaknya. Ternyata sisa satu orang terngaret, Kak Chakra. Setelah semua kumpul kita berdoa dan jalan deh.

Bis berangkat jam 12.05 dari terminal Kampung Rambutan. Harusnya sih gue ajak Virza (alumni SMK 40, anak murid Pak Bams) bareng, Cuma gak ketemu dan susah sinyal. Gue juga harus irit batere. Total perjalanan Jakarta – Garut malem itu 6 jam.


Sabtu, 6 September 2014

Jam 6.30 bis gue mendarat dengan selamat di Terminal Pasar Induk Garut. Cuaca gunung yang dingin langsung menyambut muka gue setelah semaleman pegel mampus tidur di bis. Heran gue sama yang bisa tidur di dalem bis. Sampe di terminal, kita dikasi kesempatan sarapan pagi, cuci muka, pipis, boker, update status di Path, telepon sanak saudara, dan sebagainya asal kita senang.

Jam 7 kita naik ke angkot yang di carter buat ngebawa kita ke atas sebelum di oper naik pick up. Perjalanannya sekitar 1 jam dan setelah itu kita pindah naik pick up. Pick up men! Semacam gue sapi potong aja lah. Di pick up gue akhirnya ngerasain bumpy bumpy ride yang cihuy sebelum sampe di pos pertama alias Camp David. Cek lagi perlengkapan, lanjut sebats, isi perut lagi, terus kita berdoa dan memulai pendakian!

Oiya, gunung Papandayan ini termasuk gunung yang enteng dan bagus buat pemula. Apalagi, lokasinya deket sama Jakarta. Dengan ketinggian 2665 mdpl, trek yang banyak “bonusan” bikin kita ngga bakal terkuras banget lah tenaganya, apalagi yang pemula. Tapi, berhubung gue punya riwayat asma, gak enak banget ketika udah sampe di ketinggian sekian yang bikin gue sesek nafas. Orang lain pas break helaan nafasnya gak selebay gue yang macem orang sekarat.

Sejam pertama pendakian kita bakal melewati bebatuan dan melihat Kawah Papandayan, kawah belerang yang kece abez.  Ternyata Papandayan ini bisa dikategorikan sebagai gunung berapi tidur. Selesai lewatin medan berbatu, kita sampai di Goberhut, warung gitu buat istirahat. Lanjut jalan lagi ngelewatin padang rumput kecil trus baru deh lewatin jalan sempit yang nanjaknya dahsyat banget. Gue istirahat ngga kehitung di trek ini. Cape banget.

Sampailah kita kemudian di Pos II. Setelah lapor, jajan baso ikan, lanjut naik lagi ke pemberhentian akhir sebagai tempat nge camp kita. Pondok Salada. Energi gue udah mau semaput banget pas nanjak ke Pondok Salada meski udah di doping make susu dan madu.

Finally, sampailah di Pondok Salada. Istirahat sebentar lalu tim panitia membangun tenda. Ada oleh-oleh kenangan dimana Kak Abi kehilangan satu tenda. Entah tendanya hilang dimana tapi ya intinya sore itu kita cuma ada enam tenda. Gue solat, sebats lagi (disini dosis sebats gue gak tanggung-tanggung. Dingin men!), trus tidur siang sebentar. Oya di tenda gue kebagian bobok sama Kak Sofyan dan cewenya Kak Diah. Awalnya Cuma tiduran capek eh ketiduran beneran. Bangun boci, udah ada Kak Ifa dan cewe lain yang nyiapin makanan. Pada goreng tempe, mi, dan banyaklah. Gue makan berdua Kak Arif.

Selesai solat Ashar dan pipis (ngantri pipisnya 30 menit men) kia jalan-jalan sore ke padang edelweiss deket camp. Foto-foto trus malemnya cari kayu bakar. Gue udah make baju 4 lapis termasuk jaket, sarung tangan, sama kaos kaki 3 lapis aja masih gak mempan ngelawan dingin. Ah, efek hati kopong juga nih keknya :p. #digampar


Minggu, 7 September 2014

Malem itu gue tidur cepet. Jam 8 udah tepar. Tidur ayam sih sebenernya. Dingin banget gilaaaaaaa. Suhunya sekitar 10 derajat kali. Udah make sleeping bag tetep gak mempan. Mana gue di tenda Cuma bertiga. Kak Kenny sama Diah pelukan, gue dapet sisaan doang #huft. Ternyata jam 10an anak anak pada main UNO dan masak. Boro-boro gue mikirin makan, keluar sleeping bag aja ogah. Sempet menggigil gue jam 2 pagi. Daaaaan, pas gue bangun jam 2 pagi, kondisi camp mulai tenang. Gak terlalu berisik. Langit baru keliatan cantiknya. Gue pipis trus balik bobo lucu. Sebelum bobo, mari minum minum dulu sedikit biar anget. Jangan kebanyakan, ntar kobam.

Di tenda, gue tidur ayam lagi. Berharap dapet imbas anget pelukan pasangan sebelah kanan gue. Jam 5 kurang dibangunin sama suaranya Kak Nadilla buat liat sunrise. Abis itu gedor-gedor tenda Kak Abi. Actually, kita udah telat buat liat sunrise. Tapi, berhubung kata Kak abi ke Hutan Mati Cuma 15 menit yaudin. Jalan-jalan kita jam 5.15 dan sampe Hutan Mati 5.30

Pemandangannya? Epic!!


Sunrise di Hutan Mati


my new family!

Turun dari Hutan Mati, sarapan sedikit dan ketemu angkatan orang-orang sleepyhead. Setelah itu kita siap-siap berangkat ke Tegal Alun, padang edelweiss yang ada di puncak. Jam delapan kita berangkat naik. Perjalanan ke Tegal Alun ini keparat banget serunya. Make acara kesasar, ngedaki batu-batu yang lumayan curam. Pokoknya epik deh. Kebayar semua rasa capek, kesasar, ngantuk, pegel pas ngedaki. Apalagi pas kesasar, kita jatuhnya menlintasi satu puncak. Hahaha.

Tegal Alun saatnya foto foto sampe puassssss!

Ceng-cengan, ketawa-tawa, foto-foto. Lengkap deh. Hepi banget gue.

Turun dari Tegal Alun, dihadapkan pada kenyataan kalau siang ini kita bakal back to hopeless city. Kita turun gunung jam 2 siang dan sampai terminal algi jam 5.30 sore. Bis berangkat jam 6 dan sampailah kita di terminal Kampung Rambutan lagi jam 12 malem! Heheh


Tegal Alun, the edelweiss field



my fav's shot!

tent's mate. Kak Sofyan dan Kak Diah







Till next trip ya, my new little family J
Cheers,

Nyoron

Rabu, 03 September 2014

BLESSED

Hola!

Life has been good. Too good, actually. I think God concentrate the bless upon my path. So, what's upcoming? I won 2 design competition in a week! :)

First, I won design competition held by TERANGI (Terumbu Karang Indonesia) for coral reef tranplantation desgin and brain mapping of its seminary theme. My group consist Me, Indaher, Yolla, Diah, and Irna. We won the grand prize for field trip at Pulau Harapan (again!) on Wednesday 28 August - Thursday 29 August, 2014. There's also another schools whom won the prize from 12 SHS, 57 VHS, 38 SHS, 28 SHS. I met Maruli, my bestfriend from JHS on the trip. The trip was so fun fun fun.

We depart from Marina harbour (my first time using speedboat and feel like filthy rich dude lol) and it just took 1,5 hours long to arrive at P.Harapan. The most exciting point of this trip actually because it just a month after my last trip to Pulau Harapan. Aaaaah, I felt so happy that my dream comes true to be back there again. Our trip purpose is to educate us about coral reef, beach ecosystem, and oceanology. I did a lot of observation on first night after discussion and study clinic of the day. I experienced some stargazing shots when the skies there was so mesmerezingly beatifull!



the view in front of our homestay

night sky on Pulau Harapan. Canon EOS 1000D SS 30s, f4.5, ISO 6400

4 p.m

sunrise on Pulau Kelapa


Second, Me and Indaher joined digital poster competition on Saturday after the trip on 61 SHS Jakarta. She won the first place meanwhile, I won the second place. LOL. We got a pretty good prize and Indaher picked up some of our friends to have a movie night that day.

And now, I have two design projects. Queen Dimsum Logo for Kak Mirga and Lenggang Jakarta logo revision for Jakarta Food&Culture Park. I wish all of my projects going well and done perfectly. I really excited that my logo design entered one of the best 5 logo.

Yesterday, PT. Sinar Sosro invited us, the 5 competitor to evaluate our design. They said, our design chosen because IT CLOSED TO THE LOGO CRITERIA, BUT THE DESIGN ISN'T LOGO ITSELF. We had some little seminary to educate us "What is logo?" and "How to make a good and proper logo?" Some like that.

We got the revision chance and deadline is September 9, 2014. The announcement will be held by the end of September as their promise. And the winner will meet Mr. Ahok, DKI Jakarta (soon to be) Governor. Aaaaaargh! i really want a piece of selfie with Mr. Ahok!

But unfortunately, PT. Sinar Sosro said, if until the deadline comes, there's no logo qualified and appropriate enough to be chosen, we still get the prize., equally. Sounds fair enough but actually what I want isn't about the money but also shake hands with Jakarta's Front Man. :')

So, wish me luck! I'll do my best and show my courage as Multimedia student and prove to my parents that I can make them proud!

Ciao!




Nyoron

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pulau Harapan buat yang jadi korban PHP(part2)

masih di tanggal 30 Juli 2014 Masehi

Pulau pertama sebagai snorkleing spot kita adalah......
jeng jeng!! Pulau Kayu Angin. Di kapal, gue duduk di belakang, pdkt manja sama dua penanggung jawab kita selama di pulau. Ah, sayangnya gue lupa nanya mereka Bapak siapa. Gue diajarin cara nyetir kapal motor dan gue langsung dengan jumawanya nyetir motor membelah laut biru. HAHAHA. Gue memandang temen-temen gue di depan dengan tatapan "your lives on my hand kiddos!" Trus gue seperti laut menyanyikan bekson Pirates of Carribean. hahaha. Jeng jeng dereng teng teng jereng jereng~

Pulau ini agak sepi ikan. Terumbu karang juga cuma di satu titik. Jadinya di Pulau ini snorkleingnya cuma buat pemanasan aja. Karena masih pemasanan, berkali-kali gak sengaja nelen air asin, mata gue perih dan sebagainya. tetep mangat tapi. Bulu babi disini lumayan banyak sih bagusnya, tanda ekosistem air masih lumayan seimbang, tapi arusnya lumayan kenceng karena sedikit terumbu. So. it's not really reccomended for you who just wanted to enjoy the underwater view.

Next, Pulau Bira.
Disini kita makan siang doang sih. Tapiiiiii, dermaganya photoable banget. Haha. Sensasi makan siang di Pulau Bira tuh dahsyat banget menurut gue (halah). Yaaa, lo makan siang di bibir pantai, gak kepanasan karena atas lo pohon rindang gitu, sambil makan kaki lo dibasuh ombak yang nakal bolak balik. Heaven's made on earth baby!

Beres makan siang, cabs ke spot berikutnya. Pulau Pelangi! Jeng jengggg.
Yang gue suka dari Pulau Pelangi adalah, airnya bersih!! Perjalanan menuju spot ini seru banget karena kita dihadiahin ombak yang tinggi-tinggi. Bapak pengemudi kapalnya sengaja melanin laju kapal kalo ada ombak gede dateng, jadi tuh rasanya kayak main Kora-Kora versi real! dan itu saikkkk alig!
Pulau Pelangi ombaknya fine, ngga bikin lo terbawa terlalu jauh. Terumbu karangnya juga lebih banyak dan beragam. Ada yang kayak karpet, ada yang sejenis polip gitu. Ikannya juga ramah-ramah banget ngga sok jual mahal gitu. Karena disini underwater view nya clear banget, puas-puasin foto buat stok dp bbm haha!
Sialnya, di Pulau ini tenaga gue lumayan kekures banyak. Padahal nyantai aja snorkle nya. Pas mau naik kapal gue panik karena lemes banget gabisa manjat :( sedih.

Bhaaaak!!

belum nyelem dengan sempurna



Oya, satu hal yang gue sayangkan, jangkar yang dipakai kapal adalah bekas kaleng cat yang diisi semen. Mereka ngelempar jangka asal gitu jadi ada beberapa gugusan karang rebah yang rusak :(
Ada juga dalam perjalanan sepanjang ke pulau banyak yang mabok laut dan membuang sampah plastik ke laut. Capek deh, hari gini masih nyampah di laut. Datengnya mau, ngejaga

The most epic to epic to epic epicest spot we visited : Pulau Macan Tutul
Disini, terumbu karangnya jauuuuuuuuuuhhhh lebih banyak, lebih berwarna-warni, terus bulu babinya guede guedeeee, ikannya lebih banyak, arusnya tenangggg banget. Pas kita sampai spot ini jam 4an udah ada rombongan dari homestay lain juga yang lagi asik nyebur. Satu yang gue gak suka, ikan disini jorok.

Udah ada yang pernah liat ikan boker belom? Jadi gue kan lagi nyelem sambil foto-foto, pas gue selesai mainan sama patrick berwarna biru, gue liat ikan kayak ikan Dori di Finding Nemo itu. Gue buntutin ikannya soalnya mau gue elus, eh gak lama ikan itu diem ngga berenang, gue kira dia emang pengen dielus, eeeeeeeeeh taunya doi boker! depan muka gue. Aaaargh refleks gue mundur ajatuh. Siake.

Terakhir, kita berburu sunset~ yuhuuu~
Kapal kita diparkir di dermaga Pulau Bulat. Pas lagi posisi kapal parkir, gue turun dan ngerasain anget anget di air. Ternyata, Kak Ado sama Kak Rangga pipis -____- kena cipratan pipis deh gue. Jadi, katanya Pulau ini adalah milik Alm. Soeharto, presiden kedua RI. Pulaunya sih bagus tapi ada sensasi mistis-mistis gitu. Gak tau deh kenapa. Kita disambut dua gading gajah bersilangan di pintu masuk pulau, yang lain nyebar ke dermaga buat foto foto sok eksotis sama sunset. Gue ama Kak Rachel sibuk nyari wc.

Tadinya sih kita masuk kayak ke bekas bangunan gitu. Gue kan orangnya "sensitif" ya tapi gue heran aja gitu. Disini suasana mistisnya kan kentel ya tapi gue ngga ngerasa keganggu gitu. You know lah...
Dari bekas bangunan gitu, kayak ada teras belakangnya. Gue sama Kak Rachel lewat situ dan gue nemuin sebuah jembatan dermaga gitu. Penasaran, gue sibak aja tuh akar pohonnya yang lumayan gede dan VOILAAAAA!!

We found a hidden spot in Bulat Island! Jadi, dia kaya ada kayu jembatan dermaga gitu yang putus diujung trus sisi kiri kanan nya dipasak tembok dari karang. Jadi, ombak yang dateng selalu pecah dan nyipratin kita kalo berdiri di ujung jembatan. It's time to ngalaaaaay!!! lol Gue dapet sunset yang sempurna disini. Sunset yang menurut gue, cuma bisa dinikmati sama yang mau menikmati.



Then we headed back to homestay.

Ada kejadian serem di homestay. Jadi pas gue udah kelar mandi, udah selesai adu kenceng-kencengan bunyi kentut sama Kak Rachel dan Bang Natsir, gue izin ke Kak Tyo jalan-jalan keliling pulau. Jadi, Pulau Harapan ini sebenernya agak serem juga sih kalo malem. Jalanannya ngga semua diterangi lampu. Rame sih sama suara turis di homestay yang kedengeran kalo kita lewat, tapi selebihnya ya sunyi aja gitu jalanannya.

Gue duduk di dermaga belakang yang banyak kapal warga bersandar. Gelap tapi ngga gelap banget sih. Gue duduk di pendopo gitu. Oiya, sinyal disini sebenernya kenceng-kenceng kok. Gue make 2 provider saat itu. Telkomsel buat internetan (which is lupa isi kuota jadinya gabisa apdet ots) sama  buat teleponan. Di pulau ini sinyal 3 bagus dan lumayan jernih, tapi kalo 3G buat internetan suka ilang-ilangan. Empot-empotan sinyalnya. plagi kalo dalam perjalanan di laut. SMS aja suka ilang sinyal.

So, ketika gue lagi duduk malem itu dan teleponan sama temen gue yang lagi mudik ke suatu antah berantah i Banten #dikeplak, gue lagi ngeliat ke arah kapal-kapal yang bersandar. Gak lama, mata gue kayak nangkep bayangan laki-laki dadah ke arah gue. Bayangannya gelap total tapi gue bisa simpulkan dia laki-laki. Bayangan itu ada di ruang kemudi kapal trus kayak melesat hilang ke arah pohon yang berjarak 4 meter di depan gue. Loading sebentar...................................... terus gue ngibrit sekenceng-kencengnya ke homestay.

Anjrit!

Di homestay Kak Tyo (yang ternyata bisa ngeliat gitu gituan juga!) bilang dia cuma pengen say hello dan naksir ama gue. Ah, asem! Sekalinya yang naksir mkhluk halus kan males juga jir.

Keesokannya kita check out homestay jam 7 dan kapal kita berangkat dari dermaga Pulau Kelapa jam 8. Goodbye paradise!

Rincian biaya
Rp 350.000
- transport PP Muara Angke- P. Harapan
- kapal buat island hopping
- snorkle set
- homestay AC
- makan siang
- BBQ ikan (kerapu, baronang, apa tau semuanya enak dahsyat)
- sarapan pagi

Biaya tidak termasuk
- tips guide (kita sih patungan perorang ceban)
- taksi ke angke (patungan 50rb per orang)
- rujak yang beli di pelabuhan
- minta diajarin nyetir kapal motor heheh
- sebats mentol 3 

Jadiiii, yuk liburan ke Kepulauan Seribu! Tapi inget, jangan ambil apapun yang hidup di laut. Ambil hanya foto dan kenangan, tinggalkan hanya jejak jangan sampah. Save our sea!

*eniwei, ketika gue menyelesaikan post ini, gue lagi berjuang memenangkan lomba desain brain mapping soal seminar  Terumbu Karang Buatan dan Ekosistem Pesisir bersama Indaher dan 3 adek kelas gue demi memenangkan field trip ke Pulau Harapan (lagi)! hueheheh doain ya~*

cheers,


Nyoron!

Kamis, 14 Agustus 2014

Pulau Harapan buat yang jadi korban PHP

Jadi *tarik nafas dalem dalem*
HELLO BLOGGER!!
buset deh udah hampir dua bulan sejak post gue terakhir! Nope, ini bukan karena semangat nulis gue lagi drop banget atau apa tapi gue ada kendala sama koneksi internet di rumah. And I swear to God buat lebih rajin lagi nge post.
Eniwei, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Minal Aidin wal Faidzin semua. Happy Ied Mubarak 1435 H :D

Gue mau cerita soal trip gue ke Pulau Harapan abis lebaran kemaren. Trip ini diketuai oleh Kak Tyo, temen gue dari instagram yang menjuluki dirinya ranger laut. Hahaha. Pulau Seribu emang udah jaadi bucket list tahun 2014 gue. Kemaren bulan Maret abis dari Cipir, Kelor, dan Onrust. Kak Tyo nge broadcast soal trip ini jauh-jauh hari sebelum lebaran. Eksekusi tanggal 30-31 Juli.

Gue menjaring temen gue Kak Rachel yang ngajak sodaranya juga Kak Febri. Semalem sebelum keberangkatan gue nginep di rumah Kak Rachel.

30 Juli 2014
Mata gue masih rada sepet pas taksi berangkat jam lima kurang dari Bintara, rumah Kak Rachel. Sopir yang kayaknya faham betul Jakarta lagi sepi menjadikan tolnya berasa jalan pribadi. Gue ngeliatin speedometer konstan di angka 120km/jam. Update di Path done trus chatting-chatting deh sama temen gue. Kita sampai di dermaga Muara Karang jam 5.20 pagi. Rekor gila Bekasi-Jakarta Barat 45 menit.

Sampe di dermaga, gue kira Kak Tyo udah sampe soalnya dia bilang meeting point di SPBU Muara Angke jam 5.30. Ternyata doi masih kejebak macet di pintu masuk Pasar Ikan Muara Angke. Emang tadi sempet ada antrian bongkar muat sih. Setelah ketemu Kak Tyo, masuklah kita ke dermaga. Rombongan terdiri dari 15 orang dan saling kenalan-kenalan lucu. Jadi rombongan teletabis harapan ini adalah gue, Kak Rachel, Kak Febri, Kak Tyo, Kak Rangga, Ai (pacar kak Tyo) dan temennya tiga orang, Kak Nyoman (aslinya gue gatau nama dia siapa tapi karena dia make topi khas Bali ya asumsiin aja gitu), Bang Natsir, Kak Tere, Kak Rina, Kak Abo, Kak Resnu!

udah semangat 45 hore-hore. kapal kita delay.......
Berasa lagi di bandara banget dah. Gabut ngeliatin sunrise sampe kepanasan sendiri di dek atas, mainan harmonika ampe kering, foto-foto, ngeledikin orang udah semua ampe bosen. Fyi, saat itu kan lagi high season ya jadi kondisi kapal penuh gitu.

Jam 7 lewat 15 menit baru kapal berangkat. Perlahan tapi pasti gradasi warna air berubah dari item butek jadi ijo zamrud kemudian biru jernih. Kapal melewati pulau pulau selatan yang sudah mulai kotor. Pulau Cipir, Pulau Bidadari, Pulau Onrust, terusssss bergerak ke kepulauan tengah, Pulau Tidung, Untung Jawa. Setelah perjalanan 3 jam yang melelahkan dan kaki gue jadi sandaran orang-orang mabok laut, sampailah kita di Pulau Harapan! *buka kemeja, buang semua harapan palsu*

Dermaga depannya rame banget men. Panas banget men. Udah mau jam 12 men. Kerennya pulau-pulau di utara (kita biasa nyebutnya pulau atas karena posisinya jauh dari Jakarta) adalah dari dermaga aja airnya udah jernih banget. Kita bisa liat dasar laut dan terumbu karang yang nongol dan ngintip gitu. Pasirnya aja bersih banget gitu. Airnya asin banget gitu. Tapi sayang, gak lama mata memandang ada tumpukan ranting dan sampah yang diuruk di dekat dermaga. Hhhh....

Sampai homestay Baronang, kita istirahat sebentar, pembagian kamar, trus bersiap buat snorkeling sampe keling! Ini literally kita snorkle sampe keling men. Jam 12 siang sampe 6 sore jadwal kita snorkle. Hmm... Put on the bikini, cover up with sunblock, then off we go!

bersambung dulu....

Rabu, 18 Juni 2014

Banda Neira, peneduh ditengah peluh

Banda Neira adalah sebuah band yang dibentuk oleh dua orang personil, Ananda Badudu gitaris yang tidak hapal kunci dan Rara Sekar sebagai vokalis bersuara manis. Mereka menolak disebut duo meski hanya beranggotakan dua orang, entah kenapa. Band indie ini lahir dari keisengan mereka yang saat itu sama-sama kuliah di Universitas Katholik Parahyangan. Kini, Rara Sekar bekerja di Ubud sebagai aktivis LSM dan Ananda menjadi reporter Koran Tempo di Jakarta.

Album pertama band ini lahir dari cetusan ide Rara sehari sebelum bertolak ke Ubud untuk merekam kumpulan lagu iseng mereka ke studio rekaman. Ide tersebut disambut antusias oleh Ananda dan voila! Lahirlah band indie bernama Banda Neira.

Banda Neira sendiri diambil dari sebuah kepulauan di Maluku yang memiliki nilai historis sendiri. Bapak proklamasi, Moh. Hatta pernah diasingkan disini. Karena alam dan pantainya yang indah, beliau tidak merasa seperti dalam pengasingan. Inilah filosofi yang diambil sebagai nama band mereka, membuat semua orang yang mendengar musik mereka terangkul dan tidak merasa asing.

Nuansa musik mereka cocok dikaitkan dengan sore yang sejuk dengan lukisan langit oranye dan pink yang cantik sambil melihat keramaian kota yang dinamis ditemani secangkir teh atau kopi. Sedap. Meski mereka hanya mengandalkan petikan gitar dari Ananda yang notabene tidak kenal kunci, tetapi harmonisasi suara keduanya benar-benar apik dan menyatu. Apalagi suara Rara yang manis selalu membekas di telinga penikmat, hehe.

Sayangnya, gue belum pernah ngeliat mereka manggung karena terpisah antara Ubud-Jakarta. Semoga dalam waktu dekat mereka bisa manggung lagi dan bagi-bagi merchandise!

List "Di Paruh Waktu" ep :

Di Beranda
Hujan di Mimpi
Berjalan Lebih Jauh
Ke Antah Berantah
Di Atas Perahu Kertas
Rindu
Esok Pasti Jumpa Kau Keluhkan
Senja di Jakarta

Soundcloud     : https://soundcloud.com/bandaneira

Twitter            : @dibandaneira


cheers,



Nyoron

Jumat, 23 Mei 2014

A Journey to Deepest Soul

Sekali lagi gue berjalan tanpa arah. Kemarin sore, di senja yang cerah dan sejuk mendamba. Ketika mentari sudah rindu peraduan dan langitnya makin bersaru warna, hati kecil gue merengek sebuah perjalanan baru. Dia merajuk lembar baru dalam sebuah cerita.

Berhubung besok hari sekolah, gue gak bisa pergi terlalu jauh. Yakali, besok hari Kamis (notabene hari neraka ya di kelas gue) gue malah jalan jalan ke Bogor. No, itu ada lah waktunya. Mungkin nanti. Sambil bersantai mencipak-cipakan kaki di kolam renang dengan kedalaman 130cm Pondok Kelapa, gue memandang langit. Baru teringat kalau gue ada rencana buat tato. Harusnya gue kalo urusan mentinta tubuh gue bakal ngontek temen gue, Kak Isaac, tapi yaudahlah. Selesai berenang, gue langsung berangkat ke BKT Pondok Bambu. Gue pikir pencarian tukang rajah tubuh ini bakal gampang, eh taunya harus jalan sekitar 1 km dulu.

Gue turun di jembatan BKT Pondok Bambu dan langsung menyusuri sisian kanal. Para pedagang udah mulai ramai menata lapaknya. Generator mulai dipasang, rak baju mulai di pajang, dan deretan sepatu sudah tergelar. Kaki gue masih melangkah diiringi baterai hape yang semakin menipis. Baru 20 meter jalan, gue udah nemu tukang penjual batu akik. I just stopped by and take a look for awhile.

Liat-liat sebentar, gue berjalan lagi. Gak sampai 20 meteran, udah ketemu banyak penjual batu akik. I surprised ternyata disini banyak juga yang jual mentahan maupun akik jadi. Gue selalu dapet pandangan heran plus takjub setiap berhenti di lapak batu akik dari penjual maupun yang lagi nongkrong disitu. Katanya jarang ada cewe yang ngerti batu mulia. Gue sih ketawa-tawa aja setiap kali digodain cewek jejadian ama abangnya, hehehe.

Ada satu lapak di pinggiran jalan. Ini kalo nggak salah lapak ke sepuluh yang gue samperin. Lapaknya gelap, Cuma ada satu lampu yang dipajang di tengah-tengah baskom berisi batu mentah. Gue samperin aja. Ada dua mas-mas yang lagi merokok sambil ngobrol selow. Pas gue senyumin, mereka bales senyum heran gitu. Wajarlah, jarang mungkin ada makhluk beda gender nyamperin lapak mereka. Gue liat-liat mentahannya, ternyata mentahan garut dan itu banyaaaaak banget. Satu hal yang bikin gue seneng sekaligus betah ngobrol di lapak ini, mereka gak cuma ngejual batu. Tapi, mas-masnya emang fasih soal batu which means, they shared their knowledge about gemstones to me. Mereka nunjukkin mentahan batu garut mereka. Ada Garut Hijau, Garut Kuning, dan yang paling bikin gue tertarik itu Garut Lavender <3. Jujur, gue belum pernah liat Garut Lavender sebelumnya dan ternyata cantik banget. Cinta pertama gue sih tetep ya di Safir Birma, disusul Kecubung Kalimantan :)

Mereka juga jual mentahan Black Opal, Kalimaya, Labradorite, dsb. Yang gue suka di lapak ini, iketannya (cincinnya) banyak bentuknya. Sayang, gue gak bisa ambil foto berhubung hape gue lowbatt parah dan harus gue hemat buat nujukkin desain tato. Ada iketan feminim, gak terlalu besar kayak cincin bapak-bapak gitu terbuat dari alloy. Mereka juga ngasih info ke gue soal Opal Afrika yang refleksi warnanya lebih banyak sekaligus bisa tembus cahaya rapi. Kelamaan deh gue nongkrong disana, akhirnya gue izin cabut ke tempat tato.

Jalan, jalan, jalan sambil melihat kehidupan di sekitar gue. Ternyata, di BKT Cipinang Indah ini banyak juga jual barang-barang yang bagus dengan harga miring. Contohnya, jaket kulit yang di toko bisa Rp 500 ribu lebih, disini dibanderol Cuma Rp 100rb-300rb. Country boots juga dijual disini ternyata hahaha. Penjual kerang rebus, sosis bakar, jagung pipil, baju anak, sepatu, dan tas semua berdampingan harmonis. Cuaca juga kebetulan lagi sejuk malem itu.

Akhirnya setelah jalan 600 meteran, ketemu juga lapak tattoo nya. Pas gue samperin, orangnya lagi beli kopi ternyata. Gue duduk sambil liat-liat desainnya. Sang empu lapak akhirnya dateng. Pria berusia sekitar 40-an, tambun, rambut panjangnya dikuncir hingga jidatnya kelihatan dengan pembawaan tenang nan memabukkan. Serius. I just feel he has a dark side which is enchanting somehow. Dangerous yet flirtatous.

Dia melihat gue dengan senyum kecil, terus duduk. Gue bertanya dulu soal tarif berhubung gue lagi gak bawa banyak uang. Gue menunjukkan satu gambar origami rubah yang gue adaptasi dari internet. Gue bilang di gambar dulu aja berhubung batere hape gue lagi lowbatt banget. Sepakat, harganya 20 ribu (yang pada akhirnya dia diskon jadi 15rb saja). Pas ditanya mau di tato dimana, gue nunjuk cleavage gue. Dia mengangguk pertanda sudah maklum mendapat tawaran di tempat sensitif itu. Gue? Gue sih santai aja, karena gue emang pengen kok. Emang agak nggak nyaman sih, di pinggir BKT gitu tapi bodo amat hehe.

And, the tatoo process begin!

Dia mencampur pasta henna nya sama kopi yang barusan dia minum. Gue agak heran sih, kenapa gak pakai air.

“Kalau pakai kopi, lebih cepat meresap dan warnanya tahan lama,” jawabnya tanpa gue tanya seakan tahu isi otak gue.

Gue mengangguk aja sambil menurukan kerah kaus. Dia mulai membuat outlinenya make pulpen dan itu geliiiiii banget hahah. :))  mbosok aku engas Cuma gegara di tato sik? Oke lanjut, selama proses mentato gak mungkin banget kan garing-garing gak ngomong. Akhirnya nanya gue kuliah dimana, kerjanya apa, kenapa mau tato, kenapa pilih tato ini dsb. Gue bikin short conversationnya deh. Anyway, namanya Aan Samudra. Dia cerita, he known as theatre actor and He even performed in front of Mr. Jusuf Kalla (co-President of Indonesia 2004-2009 period).

Aan      : “Kenapa mau tattoo?”
Gue      : “Emang pengen, Mas. Udah lama”
Aan      : “Bandel ya berarti. Kok pilih tato ini? Ini tato apa?”
Gue      : “Oh, ini tato origami rubah, Mas. Saya suka filosofinya. Rubah itu di hutan punya kedudukan lumayan tinggi. Suaranya tidak senyaring singa tetapi wibawanya setara. Lagian dia kayaknya selalu menyendiri gitu walau punya koloni. Saya pikir kepribadian saya mirip sama rubah. Meskipun saya dikelilingi banyak teman, saya selalu merasa sendirian. Tapi, kesendirian yang hangat”
Aan      : “Hati-hati. Jangan sampai termakan filosofi sendiri. Kamu tau bunglon?”
Gue      : *mengangguk*
Aan      : “Bunglon selalu berubah warna. Merah, hitam, abu-abu, transparan. Namanya berubah gak?”
Gue      : “Engga”
Aan      : “Nah, begitulah. Jangan sampai identitas aslimu hilang”
Aan      : “Setiap kehidupan dimulai bukan dengan kata, tapi rasa. Kehidupan diakhiri oleh hening bukan bening. Bening itu masih bisa ternoda sedangkan keheningan itu statis”

Gue terdiam menunggu kata-kata selanjutnya dari Mas Aan.

Aan      : “Setiap hitam, selalu punya putih, begitu juga sebaliknya. Jadi, gak usah takut  jadi bagian hitam, gak usah takut jadi bagian putih. Kamu pernah gak ngebayangin buat masuk di dunia yang nggak pernah kamu bayangkan?”
Gue      : “Engga, Mas. Paling Cuma sekedar pengen tau”
Aan      : “Ya itulah, kalau kamu ingin, coba saja”
Terus dia cerita soal pribadinya.
Aan      : “Saya itu pembuat topeng dari tai. Tai saya sendiri, saya bentuk jadi topeng wajah. Sampai sekarang masih ada di galeri seni di Tanggerang. Orang teater TIM, GKJ, dan sebagainya lebih kenal saya sebagai Mbah Sastra. Saya pernah tuh main teater di depan Pak Jusuf Kalla sekitar tahun 2008 dan tampil bugil. Saya sempet di kritik dan dikejar wartawan. Tapi, untung saja beritanya gak meledak. Saya paling males jadi orang terkenal. Saya di kritik sebagai aksi pornografi dan pornoaksi. Tapi, saya gak mikirin. Toh, saya melakukannya di panggung pertunjukkan. Sebuah pertunjukkan seni, jadi saya anggap itu lakon kesenian. Hal porno itu kalau tempatnya di lokalisasi, rumah bordil, Sarkem dan gang Dolly gitu. Tapi, ya namanya juga kita tinggal di Indonesia. Pak JK nya aja ketawa-tawa santai saja”

Gue tertarik banget pas denger  ini. Soalnya beritanya aja gak ada dimana-mana. Ngobrol lagi ngalor ngidul. Soal studio tato dia. Dia ternyata juga buka jasa tato permanen yang letaknya di Cipinang Indah, persis di bawah BKT yang sedang kita duduki sekarang. Pas gue utarain niat gue buat tatoan, dia wanti-wanti gue banyak banget.

Aan      : “Umur kamu berapa?”
Gue      : “17, Mas. Legalnya nanti 4 tahun lagi”
Aan      : “Udah yakin mau tatoan? Mau kerja gak kamu nantinya?”
Gue      : “Saya masih mau kerja, Mas. Makanya saya tattoo nya di bagian tubuh yang nggak kelihatan”
Aan      : “Mau dimana? Gambar apa?”
Gue      : “Rusuk, blablablablab, blablabla. Nama anak saya nanti, Benjamin sama Prudence. Beberapa gambar yang saya pengen masukin”
Aan      : “Udah siap mental buat dirajah? Buat dipandang negatif sama orang?”
Gue      : “Udah, Mas”
Aan      : “Yaudah, kalo nanti udah legal dateng aja ke studio. Banyak anak-anak yang bakal nanganin kamu. Don’t drunk antara kamu dan tato artisan nya”

Obrolan kita melebar. Baru pertama kali gue ketemu tukang tato yang ngomongnya filsafat abis hahaha. Setiap dia ngomong apa, I used to assign the meaning :)). Berasa lagi bincang ekslusif sama Nietzche #halah. Ternyata dia juga suka puisi karya sastrawan lokal, pernah belajar di bengkel teater W.S. Rendra dsb. Sore itu di tutup dengan cuaca mendung yang pekat diiringi 15 ribu yang gue selipkan di tangannya dan tato di dada gue. Gue berjanji dalam hati buat tato disini lagi.

Seperti biasa, dalam sebuah perjalanan random pasti gue ambil pelajarannya. Hikmah yang gue dapet semalem adalah, menjadi pribadi baik maupun buruk adalah pilihan masing-masing. Tetapi, menjadi baik atau buruk di mata masyarakat bukanlah pilihan kita, jadi cuek aja.

Luv,

Nyoron

Selesai ditulis 22-05-2014

Rabu, 07 Mei 2014

yah....

aku kangen kamu.
aku kangen pertemuan kita awal agustus lalu.
tepat sembilan bulan, sejak pertama kali kita jalan.

kamu masih inget gak sahur tolol kita?
kamu inget gak dm-dman pertama kita?
subuh-subuh jam 4 pagi dini hari
untuk balasan tweet yang sudah tiga hari

terus pas kita nonton The Conjuring bareng
inget gak siapa yang teriaknya paling kenceng?
inget gak siapa yang kaget paling nyolot?
inget gak pas malem takbiran kita pulang naek motor bareng?
oiya, sama pas kamu nembak di perjalanan mudik? Hahaha

aku sampe sekarang masih nyimpen batu kali asli Payakumbuh dari kamu loh
tulisan di batunya udah pudar tapi nggak sama yang disini
aku nyesel udah ninggalin kamu, cuma buat dia
tapi, buat balikan lagi juga kita sama sama gak mau
yaudahlah, kita jalan sendiri-sendiri aja.
maaf ya

mungkin kamu mau sama dia lagi
tapi aku gak mau sama yang itu lagi
berantakan tulisannya, soalnya gak niat serius-serius.
udah malem mau bobok dulu